Tangan-tanganmu serupa senapan
menuding untuk semua, sasaran
jatuh. seperti buah rambutan dipelintir hujan
musim menjadi hari yang aneh. tangan, bertepuk
hanya sebelah yang membara di kursi berselempang
langit kian menyempit, dialog pun makin mencekam,
nafasku diburu kengerian. suara jerit bayi-bayi
perempuan berbendera pembaruan
membuat jalanan menjadi kota yang berang
lorong-lorong jiwanya mengelana seperti tikus busuk
menghuni kegelapan
Kita malas memulas pautan daun talas. tertimbun
sudah batu dan bara tiga puluh dua tahun silam
knii datang waktunya. memenjarakan pada akar
pohon tumbang. sempatkan melongok mata cahayanya
tapi kau terus melawan arus dan waktu
sementara jutaan serangga kian berbisik,
semakin mengusik derap langkah suaranya. bahkan
kemarau telah diyakini tak akan segera berakhir. sebelum
tetes darah mengukir tanah ibunda. sampai sudah langkah,
menyusuri semua lapisan atmosfir kekuasaanmu. begitu
lama mencengkeram hutan dan sawah ladang. usah
gundah, selagi kami masih bersama ibu-ibu peduli,
yang ikut menangkapi kristal cahayamu.
Nurochman Sudibyo YS.
Indramayu, 2002
Pages
Label:
Puisi Berbahasa Indonesia
TANGAN MEMBARA
Sabtu, 24 Oktober 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
http://static1.freebitco.in/banners/468x60-3.png
Top Post
Arsip
Gurit Dermayon

0 komentar:
Posting Komentar