Nurochman Sudibyo YS.
Chen Thury Kawin Siri
Jika ibu pilih menangis, menangis saja lah
apalagi jika tak ada ruang untuk berkilah
ucap Chen Thury pada ibunya. 9 tahun bapaknya pergi
bilang memburu koruptor, pulangnya bawa istri baru
apa pun alasan mereka sudah kadung berhimpun, Bu!
menghitung uang, menguras tabungan meskipun
benar, kalau pun bersalah, apapun.....oke saja lah
lihatlah anak-anakmu serasa negeri yang terbelah
Chen Thury menjerit-jerit di pintu kelenteng
sejak kecil ia memang bukan perempuan cengeng
hasratnya ikut serta memanggul tempekong
imlek tahun baru, kian menjauh dari pelukan engkong
rencana kencan bareng ibu belumlah disokong
berkali strategi managemennya kaleng kosong
Och....dewi Kwan Tien kukenang dirimu di malam pengantin
ijinkan sesaji ini melengkapi rasa syukurku yang membatin
seperti warna-warni dodol cina, juada pasar dan arak putih
menjadi simbol keberkahan kita, di atas meja sembahyangmu
hingga luka setahun hendak diobati dengan ramuan perih
nasib seperti dibentangkan oleh jarak sepasang liontin
dan Tsen Thury lebih memilih kawin ketimbang bimbang
memihak pada para penabung atau menolak kawin siri.
karena ibu tak sedang hidup di habitat ayam-ayaman.
2010
Pages
Label:
Puisi Berbahasa Indonesia
Nurochman Sudibyo YS. Chen Thury Kawin Siri
Jumat, 09 Juli 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
http://static1.freebitco.in/banners/468x60-3.png
Top Post
Arsip
Gurit Dermayon

0 komentar:
Posting Komentar